Pendem adalah sebuah desa di Giriwoyo, Jawa Tengah. Desa tersebut adalah desa yang saya tempati selama live in desa pada pekan sosial yang lalu. Saya memang sudah menanti-nantikan acara live in desa ini karena ini saya baru pertama kali ikut live in desa. Hal yang amat saya kagumi dari desa ini adalah keramah tamahan yang terdapat pada setiap orang di desa terebut. Memang kita tahu bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat di desa masih sangat kental dan terlihat. Contoh konkret dapat kita temui apabila kita berpapasan di jalan, pasti mereka selalu menyapa dan tersenyum walaupun kita tidak kenal sekalipun, hal ini tentu saja sangat jarang kita temui di kota. Kemudian juga mereka pasti mengenal satu sama lain seluruh masyarakat di desa tersebut. Di desa tersebut saya tinggal di rumah Bapak Suyato, beliau tinggal bersama seorang istri, dua orang anak, dan kedua mertuanya yaitu orang tua sang istri. Beliau bermata pencaharian sebagai seorang petani. Beliau mempunyai ladang yang tak jauh dari rumahnya. Namun tidak hanya beliau saja yang bekerja di ladang tersebut, namun seluruh anggota keluarga, termasuk istri dan mertua juga bekerja di ladang tersebut, kecuali kedua anaknya karena masih kecil. Pada hari pertama sampai di desa pendem, saya dijemput oleh Bapak Suyato dan istrinya serta anaknya yang paling kecil yang baru berumur siktar 6 tahun. Saya dijemput dengan menggunakan motor karena memang rumah Bapak Suyato tersebut berjarak paling jauh dari tempat berkumpul yang disebut kapel, dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya. Hari-hari berikutnya saya lewati dengan bercakap-cakap tentang kehidupan sehari-hari, kemudian juga saya pergi ke ladang membantu membersihkan lumpur liar, yang dinamakan ‘matun’ dalam bahasa jawa. Selain itu juga melihat pak suyato membersihkan hama dengan menyemprot dengan obat pembunuh hama tanaman.
Berikut ini adalah sebuah percakapan yang sangat menyentuh hati saya
Saya : wah, mangganya manis sekali ya pak.
Bapak : iya, kan lagi musimnya, kalo nga musim ya nga manis
Saya : ohh iya ya, ini mangga beli pak?
Bapak : oh nga, ini dikasi dari tetangga, punya banyak dia
Saya : ohh haha
Bapak : iaa disini tuh apa-apa musiman, kayak padi juga, musiman disini, kalo lagi musim ya banyak, kalo nga ya sedikit, selain itu juga harganya kalo nga musim bisa mahal sekali itu, contahnya aja kemarin ini ya beras tuh sekilo bisa sampe 30 ribu, sekarang sekilo berapa, 3ribu
Saya : wah gila bisa sampe segitunya ya pak
Bapak : ia biasalah disini kita orang kecil, bisa dimainin juga ma itu lintah darat, makanya kalian inget, biar bisa tau juga, belajar gitu, gimana loh kehidupan orang kecil, biar ntar kalo uda jadi orang bisa tau, uda pernah ngerasain juga hehe.
Saya : hehe ia pak.
Bapak : yaa terus juga disini tuh pake hoki haha, kalo lagi ga hoki ya hasil panen dikit, kalo hoki bisa banyak banget haha
Saya : ahahaha ia ia
Percakapan diatas dilakukan pada saat makan siang. Saya sangat tersentuh dengan percakapan diatas, terutama di bagian saat Pak Suyato memberikan nasihat tentang orang kecil tersebut. Beliau sendiri hingga bisa berkata bahwa beliau adalah orang kecil, saya sangat tersentuh dengan pernyataan beliau tersebut dan merasa iba kepadanya. Dari sini saya sadar bahwa saya telah dianugerahi berkat yang sangat luar biasa besar oleh Tuhan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar